Touch Down Jakarta
cerita December 22nd, 2011
Akhirnya setelah beberapa lama tidak menginjakan kaki di ibukota, saya kembali lagi ke Jakarta. Kota tempat saya menghabiskan masa remaja. Jakarta sekarang tidak sama dengan Jakarta yang saya ingat, kemacetan dimana-mana, ditambah pembangunan yang sangat cepat, galian di pinggiran jalan, dan semua keruwetan lainnya. Entah kenapa saya tidak pernah terbiasa dengan semuanya, hati kecil saya hanya bisa berharap agar Jakarta menjadi kota yang lebih nyaman lagi untuk penduduknya.
Saya punya slot waktu untuk berjalan-jalan di kota ini. Sempat sih terpikir untuk menghabiskan waktu untuk beristirahat saja di apartemen, sampai akhirnya ponsel saya berbunyi, sebuah sms masuk kedalam inbox.
‘Gil, kamu lagi ada di Jakarta? Temenin aku jalan-jalan yuk, kita kan udah lama juga ga ketemu’
Sms itu berasal dari nomor seorang kawan, Fina namanya. Fina ini dulu sempat berpacaran dengan rekan kerja saya, tapi kandas ditengah jalan. Tak lama kemudian saya balas sms itu.
‘Iya, aku lagi di Jakarta, baru saja sampai tadi sore. Jalan-jalan? Males ah, macet gitu dimana-mana, jalan-jalan juga paling ke mall, mendingan aku istirahat aja di apartemen’, balas saya dalam SMS
‘Kamu itu, masih saja begitu, bukan ke mall kok. Ayo temani aku, tugasmu cuma nemenin aku aja, aku yang nyetir, kalo perlu aku jemput deh’, balas Fina.
Setelah SMS-an beberapa kali, akhirnya saya menyerah. Diputuskan bahwa Fina akan jemput saya keesokan harinya dengan tujuan yang sayapun masih belum tau kemana. Tak apalah, mudah-mudahan bukan jalan-jalan ke mall nemenin dia belanja. Keesokan harinya pagi-pagi sekali Fina sudah datang menjemput saya di apartemen. Dengan gaya casual dan menenteng sebuah camera DSLR, tanpa basa basi dia langsung mengajak saya pergi. Selama diperjalanan, dia banyak cerita, tentang hubungan dia yang kandas dengan rekan saya, tentang dia yang sekarang menjadi seorang fotographer profesional, cerewet sekali.
“Kita mau kemana sih Fin?”, tanya saya.
“Kita akan bernostalgia Gil..”, jawab Fina
“Nostalgia? Kamu mau bawa aku ke mesin waktu?”, canda saya
“Udah deh, kamu duduk manis aja disitu, sekarang kita ke jangkung dulu ya, sarapan..”, jawab Fina.
Jangkung, sudah lama saya tidak kesini. Tempat ini rasanya sudah buka dari dulu. Waktu kecil saya sering diajak orang tua saya makan disini. Mie kangkung dan kwetiauw sapi adalah makanan favorit saya disini. Yay! Saya rasanya senang sekali diajak Fina makan disini, saya memesan kwetiaw sapi siram, sementara Fina memesan mie kangkung. Dan yang ajaib, cita rasa masakan di Jangkung ini tidak berubah, masih sama dengan yang saya ingat ketika saya masih kecil dulu.
Usai makan di Jangkung, kami berdua kembali meneruskan perjalanan. Ternyata Fina mengajak saya jalan-jalan ke Kota Tua, rupanya Fina ingit memotret beberapa objek di Kota Tua untuk katalognya. Saya pun semakin semangat.

Tujuan kami yang pertama adalah Museum Wayang. Museum ini sangat menarik. Selain menampilkan koleksi wayang kulit dan wayang golek yang sudah kita kenal, museum ini juga memamerkan wayang-wayang kontemporer serta wayang dari luar negeri. Dengan harga tiket 2000 rupiah/ orang, kita bisa masuk ke Museum ini.
Beres mengunjungi Museum Wayang, kami masuk ke Museum Fatahilah. Warga kota Jakarta pasti sudah familiar dengan bangunan gedung Museum Sejarah Jakarta atau lebih populer disebut Museum Fatahilah. Meskipun terkenal, belum semua warga Jakarta tertarik mengunjunginya. Padahal, museum ini adalah objek wisata yang wajib dikunjungi di kawasan Kota Tua.
Bangunan Museum Fatahilah selesai dibangun pada 1710 dan pernah menjadi kantor gubernur Hindia Belanda. Kompleks bangunan ini cukup luas, terdiri dari bangunan utama yang mempunyai tiga lantai serta dua bangunan sayap di bagian kiri dan kanan.
Kompleks ini juga memiliki ruang bawah tanah yang pernah digunakan sebagai penjara. Sampai sekarang ruangan penjara bawah tanah ini masih bisa dilihat, lengkap dengan rantai untuk mengikat kaki narapidana serta terali. Koleksi museum ini yang paling menarik antara lain pedang eksekusi, meriam si Jagur yang berasal dari Makau, serta patung Hermes yang dulunya menghiasi jembatan di depan gedung Harmoni.
Museum terakhir yang kami kunjungi adalah Museum Bank Mandiri. Koleksi yang ditampilkan Museum Bank Mandiri merupakan rekaman sejarah perkembangan dunia perbankan Indonesia. Barang-barang yang dipamerkan antara lain mesin hitung kuno, komputer dan printer yang berusia beberapa dekade, bahkan dipamerkan pula mesin ATM dari berbagai masa.

Museum Bank mandiri sangat menarik karena banyak menampilkan diorama yang mengantar imajinasi kita ke suasana kantor bank di masa lalu. Bagian yang paling menarik di museum ini adalah ruangan brangkas untuk menyimpan benda-benda berharga yang terletak di bawah tanah. Dulu, hanya nasabah kaya saja yang bisa masuk ke ruangan itu.
Sebenarnya masih ada tiga tempat lagi yang ingin kami kunjungi, namun karena tidak cukup waktu, akhirnya kami urung mengunjungi tempat-tempat itu. Tempat itu antara lain; Museum Bahari, Museum Bank Indonesia dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang lokasinya tidak jauh dari Museum Fatahilah. Namun museum ini tutup sampai Februari 2012 karena proyek pemugaran.
Fina terlihat sangat antusias mengabadikan bangunan-bangunan bersejarah dengan isinya itu. Matanya terlihat tajam, dan tangannya sigap sekali dalam mengambil moment-moment yang hadir disekelilingnya. Ada satu foto yang saya suka, gambar seorang tua penjual jasa ojek sepeda ontel di luaran Museum Fatahilah. Bapak Tuaitu sedang mengayuh sepeda sambil tersenyum, dan senyumannya seperti menular, ketika saya lihat foto itu, saya pun ikut tersenyum.
Usai menjambangi 3 museum di kota tua Jakarta, kami berdua mampir untuk early dinner di Cafe Batavia, saat itu waktu menunjukan jam 5 sore. Suasana apik dan alunan live music sangat memanjakan mata dan telinga saya, dan makanan yang sophisticated memanjakan lidah saya.
Senang sekali rasanya hari ini, bernostalgia seakan masuk kedalam lini waktu sejarah di kota tua Jakarta. Menghabiskan waktu, berbincang dan berbagi canda dengan seorang kawan, dan ditutup dengan makan malam. Kalian harus coba deh jalan-jalan ke kota Tua ![]()









About