Touch Down Jakarta

cerita December 22nd, 2011

Akhirnya setelah beberapa lama tidak menginjakan kaki di ibukota, saya kembali lagi ke Jakarta. Kota tempat saya menghabiskan masa remaja. Jakarta sekarang tidak sama dengan Jakarta yang saya ingat, kemacetan dimana-mana, ditambah pembangunan yang sangat cepat, galian di pinggiran jalan, dan semua keruwetan lainnya. Entah kenapa saya tidak pernah terbiasa dengan semuanya, hati kecil saya hanya bisa berharap agar Jakarta menjadi kota yang lebih nyaman lagi untuk penduduknya.

Saya punya slot waktu untuk berjalan-jalan di kota ini. Sempat sih terpikir untuk menghabiskan waktu untuk beristirahat saja di apartemen, sampai akhirnya ponsel saya berbunyi, sebuah sms masuk kedalam inbox.

‘Gil, kamu lagi ada di Jakarta? Temenin aku jalan-jalan yuk, kita kan udah lama juga ga ketemu’

Sms itu berasal dari nomor seorang kawan, Fina namanya. Fina ini dulu sempat berpacaran dengan rekan kerja saya, tapi kandas ditengah jalan. Tak lama kemudian saya balas sms itu.

‘Iya, aku lagi di Jakarta, baru saja sampai tadi sore. Jalan-jalan? Males ah, macet gitu dimana-mana, jalan-jalan juga paling ke mall, mendingan aku istirahat aja di apartemen’, balas saya  dalam SMS

‘Kamu itu, masih saja begitu, bukan ke mall kok. Ayo temani aku, tugasmu cuma nemenin aku aja, aku yang nyetir, kalo perlu aku jemput deh’, balas Fina.

Setelah SMS-an beberapa kali, akhirnya saya menyerah. Diputuskan bahwa Fina akan jemput saya keesokan harinya dengan tujuan yang sayapun masih belum tau kemana. Tak apalah, mudah-mudahan bukan jalan-jalan ke mall nemenin dia belanja. Keesokan harinya pagi-pagi sekali Fina sudah datang menjemput saya di apartemen. Dengan gaya casual dan menenteng sebuah camera DSLR, tanpa basa basi dia langsung mengajak saya pergi. Selama diperjalanan, dia banyak cerita, tentang hubungan dia yang kandas dengan rekan saya, tentang dia yang sekarang menjadi seorang fotographer profesional, cerewet sekali.

“Kita mau kemana sih Fin?”, tanya saya.
“Kita akan bernostalgia Gil..”, jawab Fina
“Nostalgia? Kamu mau bawa aku ke mesin waktu?”, canda saya
“Udah deh, kamu duduk manis aja disitu, sekarang kita ke jangkung dulu ya, sarapan..”, jawab Fina.

Jangkung, sudah lama saya tidak kesini. Tempat ini rasanya sudah buka dari dulu. Waktu kecil saya sering diajak orang tua saya makan disini. Mie kangkung dan kwetiauw sapi adalah makanan favorit saya disini. Yay! Saya rasanya senang sekali diajak Fina makan disini, saya memesan kwetiaw sapi siram, sementara Fina memesan mie kangkung. Dan yang ajaib, cita rasa masakan di Jangkung ini tidak berubah, masih sama dengan yang saya ingat ketika saya masih kecil dulu.

Usai makan di Jangkung, kami berdua kembali meneruskan perjalanan. Ternyata Fina mengajak saya jalan-jalan ke Kota Tua, rupanya Fina ingit memotret beberapa objek di Kota Tua untuk katalognya. Saya pun semakin semangat.

Tujuan kami yang pertama adalah Museum Wayang. Museum ini sangat menarik. Selain menampilkan koleksi wayang kulit dan wayang golek yang sudah kita kenal, museum ini juga memamerkan wayang-wayang kontemporer serta wayang dari luar negeri. Dengan harga tiket 2000 rupiah/ orang, kita bisa masuk ke Museum ini.

Beres mengunjungi Museum Wayang, kami masuk ke Museum Fatahilah. Warga kota Jakarta pasti sudah familiar dengan bangunan gedung Museum Sejarah Jakarta atau lebih populer disebut Museum Fatahilah. Meskipun terkenal, belum semua warga Jakarta tertarik mengunjunginya. Padahal, museum ini adalah objek wisata yang wajib dikunjungi di kawasan Kota Tua.

Bangunan Museum Fatahilah selesai dibangun pada 1710 dan pernah menjadi kantor gubernur Hindia Belanda. Kompleks bangunan ini cukup luas, terdiri dari bangunan utama yang mempunyai tiga lantai serta dua bangunan sayap di bagian kiri dan kanan.

Kompleks ini juga memiliki ruang bawah tanah yang pernah digunakan sebagai penjara. Sampai sekarang ruangan penjara bawah tanah ini masih bisa dilihat, lengkap dengan rantai untuk mengikat kaki narapidana serta terali. Koleksi museum ini yang paling menarik antara lain pedang eksekusi, meriam si Jagur yang berasal dari Makau, serta patung Hermes yang dulunya menghiasi jembatan di depan gedung Harmoni.

Museum terakhir yang kami kunjungi adalah Museum Bank Mandiri. Koleksi yang ditampilkan Museum Bank Mandiri merupakan rekaman sejarah perkembangan dunia perbankan Indonesia. Barang-barang yang dipamerkan antara lain mesin hitung kuno, komputer dan printer yang berusia beberapa dekade, bahkan dipamerkan pula mesin ATM dari berbagai masa.

Museum Bank mandiri sangat menarik karena banyak menampilkan diorama yang mengantar imajinasi kita ke suasana kantor bank di masa lalu. Bagian yang paling menarik di museum ini adalah ruangan brangkas untuk menyimpan benda-benda berharga yang terletak di bawah tanah. Dulu, hanya nasabah kaya saja yang bisa masuk ke ruangan itu.

Sebenarnya masih ada tiga tempat lagi yang ingin kami kunjungi, namun karena tidak cukup waktu, akhirnya kami urung mengunjungi tempat-tempat itu. Tempat itu antara lain; Museum Bahari, Museum Bank Indonesia dan Museum Seni Rupa dan Keramik yang lokasinya tidak jauh dari Museum Fatahilah. Namun museum ini tutup sampai Februari 2012 karena proyek pemugaran.

Fina terlihat sangat antusias mengabadikan bangunan-bangunan bersejarah dengan isinya itu. Matanya terlihat tajam, dan tangannya sigap sekali dalam mengambil moment-moment yang hadir disekelilingnya. Ada satu foto yang saya suka, gambar seorang tua penjual jasa ojek sepeda ontel di luaran Museum Fatahilah. Bapak Tuaitu sedang mengayuh sepeda sambil tersenyum, dan senyumannya seperti menular, ketika saya lihat foto itu, saya pun ikut tersenyum.

Usai menjambangi 3 museum di kota tua Jakarta, kami berdua mampir untuk early dinner di Cafe Batavia, saat itu waktu menunjukan jam 5 sore. Suasana apik dan alunan live music sangat memanjakan mata dan telinga saya, dan makanan yang sophisticated memanjakan lidah saya.

Senang sekali rasanya hari ini, bernostalgia seakan masuk kedalam lini waktu sejarah di kota tua Jakarta. Menghabiskan waktu, berbincang dan berbagi canda dengan seorang kawan, dan ditutup dengan makan malam. Kalian harus coba deh jalan-jalan ke kota Tua :)

Bali, I think I’m in Love

Uncategorized December 17th, 2011

Bali, I think I’m in Love

Akhirnya sampai juga di pulau ini, Pulau Dewata yang dikenal sebagai surganya dunia, Bali.

Waktu sudah menunjukan jam 10 pagi saat ini, kondisi badan saya agak kurang fit, lagi-lagi saya harus menyalahkan pada cuaca dan pola tidur yang agak terganggu. Belakangan ini banyak yang ada di dalam kepala saya, ditambah lagi kepala saya satu-satunya ini beberapa kali terkena air hujan. Sedikit lemas, tapi secara keseluruhan sih masih sehat :D

Saya membutuhkan secangkir kopi hitam, itu yang ada dalam benak saya ketika menginjak Bali. Dan saat itu saya langsung teringat pada sebuah kafe di Denpasar milik pak Bondan. Ya, Kopitiam Oey adalah tempat yang ada dalam benak saya. Secangkir kopi tubruk panas. Hanya dengan membayangkan ingatan tentang secangkir kopi membuat panca indra saya seakan bisa menghirup aroma kopi hitam itu.

Meminjam sepeda motor matic seorang rekan kerja, saya pun menuju Kopitiam Oey. Di café yang terletak di jalan Teuku Umar itu saya segera memesan secangkir kopi tubruk yang sudah saya inginkan sedari pagi, dan sepiring singkong sambal roa, memang bukan makanan khas Bali, tapi entah kenapa saya suka dengan minuman dan camilan yang disajikan di café ini. Entah sugesti atau bukan, namun setelah menikmati secangkir kopi tubruk itu badan saya agak segar, atau mungkin segar karena melihat beberapa orang gadis ayu yang juga merupakan pengunjung café itu, entahlah :p

Usai menikmati secangkir kopi, sepiring singkong dan memandangi gadis ayu, saya pun menuju hotel tempat saya beristirahat, sekedar mandi (lagi), berganti baju dan kemudian siap-siap untuk makan siang. Iya, makan siang, kata Ibu saya, segala sumber penyakit itu datangnya dari perut, jadi kalo terasa tidak enak badan, perutnya harus diisi dengan betul. Jadi, itulah sebuah pembenaran yang saya gunakan untuk makan siang setelah sebelumnya sarapan, lagi pula matahari sudah tegak menyapa diatas bumi, waktu yang tepat untuk makan siang.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit dari hotel, saya sampai juga  di Jalan Kedondong, Denpasar. Warung Satria namanya, meskipun tempatnya tidak terlalu besar, namun tempat ini lumayan legendaris.  Ada beberapa menu yang ditawarkan di sini seperti  tipat kuah, nasi betutu, nasi campur dan lain-lain, pokoknya khas Bali. Yang paling terasa adalah sambal pedasnya itu loh, pas sekali dengan lidah saya. Kali ini saya memilih untuk memesan nasi campur lengkap dengan sambal pedasnya, uniknya disini, nasi campurnya disajikan dengan kuah sayur nangka yang hangat. Tidak lupa juga saya memesan es jeruk untuk mengobati rasa panas dan kehausan, makan siang yang nikmat sekali, rugi kalau ke Bali tidak mencobanya.

Beres makan, saya tiba-tiba teringat pada beberapa ponakan saya yang sedang UAS, mereka minta untuk dibawakan oleh-oleh sandal dan kaos Joger katanya. Memacu gas motor, saya pun menuju arah Legian untuk membeli oleh-oleh untuk keponakan-keponakan saya. Setelah memilih sana sini akhirnya saya membeli 2 pasang sandal jepit khas Joger dan beberapa buah kaos. Kaosnya sih bukan cuma oleh-oleh saja, saya pun ikut membeli, mumpung di Bali, hihihi.

Makan sudah, belanja sudah. Hmm, masih ada yang kurang, saya ingin menikmati suasana pantai. Ingatan saya menerawang jauh ke belakang, saya teringat indahnya pantai Padang-padang di desa Pecatu, dekat pura Uluwatu. Pantai yang pernah dipakai sebagai  lokasi syuting video klip Michael Learns To Rock dan film Eat Pray Love ini memiliki kenangan mendalam untuk saya. Saya masih ingat menuruni  tebing, turun menyusuri anak tangga untuk dapat mencapai pantai itu, berpegangan tangan dengan dia, dia yang selama ini selalu hinggap dalam pikiran saya.

bali

Dan akhirnya kenangan itu pula yang membuat saya urung untuk pergi kesana, lebih baik saya langsung kembali saja ke Bandara, menghabiskan waktu bercanda gurau dengan teman-teman disana, sekalian mengembalikan motor, pikir saya.

Saat itu ruang tunggu masih sepi, hanya ada beberapa pramugari saja disana, setelah mengembalikan kunci motor, saya membuat secangkir kopi instan sambil memainkan game di iPod saya. Sampai akhirnya..

Hey, kamu ada disini? Kapan sampai?”, suara lembut seorang gadis yang sangat familiar menyapa saya.

Ternyata itu dia, dia yang selalu ada di pikiran saya selama ini, dia yang terlihat makin cantik dengan rambutnya yang panjang, dia yang menebarkan senyum  ramah dan tatapan lembutnya ke arah saya. Terdiam sejenak, saya lalu tersenyum ke arahnya, dan tersenyum pada Tuhan. Dia selalu punya cara untuk membahagiakan umat-Nya. I think I’m in love.

Angin Mamiri, Angin Rindu

cerita December 10th, 2011

Biasanya jika baru mendarat dan menginap di kota tujuan, yang saya lakukan hanyalah berdiam diri di kamar hotel. Tak banyak yang saya lakukan. Hanya beristirahat dan berharap waktu cepat berlalu sehingga saya bisa kembali terbang dan cepat-cepat pulang. Tapi beberapa waktu belakangan ini ada kejenuhan jika hanya berdiam saja. Akhirnya saya mencoba berpetualang sendiri. Dan kali ini saya akan sedikit bercerita pengalaman saya di kota Angin Mamiri, Makassar atau Ujung Pandang.

Usai memarkirkan si pesawat besi, saya segera mengganti atribut dengan yang lebih santai. Kaos oblong dan celana jeans. Hari masih siang dan ada banyak agenda pribadi yang ingin saya tuntaskan. Namun sebelum memulai pertualangan ini, hal pertama yang akan saya tuju adalah pelampiasan kebutuhan perut. Maklum, matahari telah tegak persis di atas kepala dan sang naga sudah mulai meminta jatah. Hehehehe.

Teringat pesan seorang teman yang asli kota ini, bahwa jika datang ke Makassar jangan makan unggas, di Jakarta sudah banyak. Makan Ikang (ikan) sampai kenyang. Dan menurut saya hal ini wajar saja. Jika hanya makan makanan yang sudah umum di daerah lain, buat apa? Tapi ini adalah hal terakhir yang nanti saya jabani nanti malam. Target utama saya adalah menyantap Coto Makassar dan Sup Konro.

Tibalah saya di sebuah rumah makan sederhana. Tanpa membuang waktu, dua menu saya pesan. Sup Konro, Coto Makassar lengkap dengan Buras. Ah, saya seperti orang kalap. Porsi untuk dua orang ini tuntas saya hadang sendiri. Bahkan pengunjung lain sempat memperhatikan saya yang makan dengan lahap (atau kalap lebih tepatnya hahhaha).

Tangki di perut penuh terisi sudah. Dan kali ini saya akan menuju sebuah tempat bersejarah, Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam. Benteng yang terletak di pinggiran pantai sebelah barat kota Makassar ini adalah peninggalan kerajaan Gowa-Tallo. Bentuknya seperti penyu yang dalam filosofinya mampu bertahan hidup baik di darat maupun di laut. Benar saja, kerajaan Gowa mampu menunjukkan kejayaannya baik di daratan dan lautan.

Masyarakat Gowa menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua, dan pada awalnya terbuat dari tanah liat. Dan pada pemerintahan Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin, mengganti konstruksi benteng ini dengan batu padas. Di dalam benteng ini juga terdapat Museum La Galigo yang menyimpan berbagai peninggalan kerajaan Gowa-Tallo.

Hanyut dalam nostalgia bersejarah membawa saya jauh dalam perenungan. Betapa Nusantara ini mempunyai kejayaan yang seharusnya bisa dibangkitkan lagi. Sejarah bukan hanya untuk dibanggakan dan diceritakan dari masa ke masa, tapi sebagai pembelajaran.

Surya semakin condong ke barat dan langkah saya tertuju pada pantai Losari. Ujung langit telah memerah dan senja kan tergantikan malam. Jika saya bisa menghentikan waktu, maka saya akan menghentikannya sekarang. Dimana saya bisa menikmati sepuasnya rona senja di pantai ini.

Masih banyak tempat yang ingin saya kunjungi di kota ini. Seperti ke Makam Raja-Raja Tallo, Benteng Sombaopu atau ke Pulau Kahyangan. Tapi waktu jualah yang memisahkan *pffft  :))

Setidaknya mala mini saya bisa kembali menikmati santapan laut sepuasnya.

Malam, hidangan laut dan pantai. Perpaduan dinner yang romantis. Tentu saja jika ada “seseorang” yang menemani anda makan *usap-usap dada*

Akhirnya saya kembali ke hotel dengan perut kenyang dan rasa girang dari berpetualang. Dan saya menggenggam bungkusan ikan sunu (mirip ikan kerapu yang diasinkan) sebagai oleh-oleh untuk calon mertua yang entah siapa *tertunduk lesu*

Menelusuri Hiruk Pikuk Kota Batam

cerita December 8th, 2011

Sudah cukup lama saya tidak menginjakan kaki di Bandara Hang Nadim di Batam ini. Udara yang agak kering menjadi ciri khas pulau kecil yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Singapura. Berbekal list yang sudah saya susun kemarin malam, hari ini saya akan sangat amat menikmati  jalan-jalan di Batam

Hari ini cuaca cukup cerah, pantai Batu Besar menjadi tujuan saya yang pertama. Berbekal beberapa kaleng minuman ringan dan cemilan dengan segera saya menuju pantai yang jaraknya sangat dekat dengan Bandara Hang Nadim. Nikmat sekali rasanya siang ini, dimanjakan dengan teduhnya  pohon kelapa, hamparan ombak yang datang silih berganti, hembusan angin yang datang mengayun nyiur dan ditemani minuman ringan yang menyegarkan tenggorokan.  Pantai Batu Besar mungkin tidak seindah Pantai Nongsa, Pantai Melur Pulau Galang dan Pantai Sekilak, tapi saya cukup puas dengan apa yang saya dapatkan disini.

Pantai ini disekat-sekat oleh para ‘pemiliknya’. Meskipun demikian, dengan harga retribusi masuk yang cukup murah, saya dimanjakan oleh indahnya pemandangan di pantai Batu Besar. Tampak beberapa anak kecil sedang bermain dengan gembira, bermain air sampai akhirnya dikejutkan oleh deru pesawat, lalu mereka tertawa kembali sambil menunjuk pesawat yang terbang diatas kepala mereka . Tanpa sadar saya ikut tersenyum melihat tingkah laku mereka, senyum memang menular, membawa kebahagiaan pada orang-orang disekelilingnya.

Merasa cukup dengan pemandangan yang menyegarkan di pantai Batu Besar dan perut yang sudah minta di isi, saya memacu mobil ke arah Nagoya, siang ini saya sepertinya ngidam sup ikan. Beberapa menit perjalanan akhirnya saya sampai di kawasan Nagoya. Pilihan saya jatuh pada rumah makan Yong Kee Istimewa. Saya memesan sup ikan dan Ca Kailan sebagai menu utama, dan sambil menunggu pesanan datang saya menyantap otak-otak untuk appetizer-nya. Begitu merasakan satu suapan, saya langsung terhanyut oleh cita rasa masakannya, sedap sekali, badan langsung terasa hangat ketika menyantap sup ikan dari rumah makan Yong Kee Istimewa ini.

Dengan perut kenyang akhirnya saya masuk ke agenda berikutnya. Belanja!

Saya mulai mencari-cari barang elektronik di Lucky Plaza di kawasan Nagoya, namun sayangnya ternyata saya malah kebingungan dengan berbagai macam gadget yang ada disana, belum lagi harga yang ditawarkan bervariasi, saya tidak pandai juga untuk menawar harga. Dengan berat hati akhirnya saya urung untuk membeli gadget disana. Dari Lucky Plaza saya memutuskan untuk pergi ke Nagoya Hills di kawasan yang sama, disini saya membeli sebuah ransel laptop dan sepasang sepatu, dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya. Ah iya, sedikit tips untuk berbelanja disini, sebelum membeli kita harus mengetahui harga asli suatu barang di kota lain, misalnya Jakarta, jadi kita bisa membandingkan harga yang ada di pasaran.

Sebenarnya banyak sekali barang-barang yang ingin saya beli, untungnya saya bisa menekan semua keinginan saya dan hanya membeli barang yang memang benar-benar saya butuhkan :D

Usai berbelanja, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke sebuah “ikon” Kota Batam, Jembatan Barelang.  Jembatan Barelang merupakan penghubung 3 pulau yaitu Batam, Rempang dan Galang yang konon keberadaannya diprakarsai oleh Habibie dalam rangka mengembangkan wilayah industri di Kepulauan Riau.  Jembatan ini memang unik untuk ukuran Indonesia, karena dibuat untuk menghubungkan pulau-pulau, bukan sungai seperti jembatan lain di Indonesia. Ada enam buah jembatan yang menghubungkan pulau-pulau ini, dan ke-enamnya memiliki nama yang diambil dari raja-raja Melayu, saya juga lupa nama-nama resmi jembatan Barelang ini apa saja, mungkin ini yang menyebabkan jembatan penghubung pulau ini masih dikenal dengan nama Jembatan Barelang. Ternyata sore ini bukan hanya saya saja yang berniat untuk menghabiskan waktu di Jembatan Barelang,  jembatan ini penuh sesak juga  oleh warga Batam dan pelancong lainnya.

Berdiri di atas jembatan ini sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Hebat loh karya anak bangsa kita, bisa membuat jembatan gantung raksasa. Membuat kita merasa bangga dengan bangsa kita.  Akhirnya sore ini saya habiskan dengan menikmati bulatan matahari kekuningan yang tergelincir di ufuk barat sambil menyantap jagung bakar, gorengan udang, sebotol air mineral dan bayangan wajah perempuan cantik yang ada di seberang pulau sana. Sempurna.

Horas, Ini Medan Bung!

cerita November 30th, 2011

Dua jam sudah sayamengendalikan si burung besi. Perjalanan dari Jakarta ke Medan kali ini bisa dibilang sangat lancar. Tidakada delay, tidak ada penumpang yang mengeluh, dan yang paling utama adalah saya bisa menjaga amanat untuk mengantarka nsemua orang selamat ke tempat tujuan, kota Medan.

Sampai di Bandara Polonia saya langsung disambut oleh Mas Imam, kakak kelas saya sewaktu duduk di bangku SMA. Aslinya sih bukan orang Sumatera Utara, namun sudah menetap di sana semenjak kuliah.

“Horaskawan, lama kita tak berjumpa” sapa Mas Imam dengan ramah.

“Apakabar Mas? Makasih udah nyempetin diri buat nemenin saya” jawab saya sambil tersenyum.

Kami bergegas melangkah keluar bandara sambil ngobrol kesana kemari. Sebelum petualangan dimulai, kami memutuskan untuk singgah dulu di KFC seberang bandara. Perut sudah tidak bisa berkompromi, tak apalah sekali–kali menikmati makanan siapsaji, sambil beristirahat sejenak pikir saya. Usai menyantap sarapan yang kesiangan itu, saya langsung diseret Mas Imam untukmenikmati indahnya Kota Medan.

Tujuan kami yang pertama adalah Istana Maimun.Jaraknya lumayan dekat dari bandara Polonia, kurang lebih sekitar 10 km. Konon katanya Istana Maimun merupakan salah satu istana yang paling indah yang ada di Indonesia.Tak sabar rasanya ingin tahu peninggalan penguasa Kesultanan Deli dariabad 18 itu.Tidaksampai setengah jam, akhirnya kami tiba di Istana Maimun.Halamannya sangatluas.Seorang penjual kaos langsung menyapa dan menawarkan dagangannya sesaat setelah kami turun dari mobil, namun tidak ada satu pun kaos dengan gambar Istana Maimun.

istana-maimun

Arsitektur bangunan ini membuat saya takjub, perpaduan beberapa budaya tampak terlihat jelas di sana.Dari luar kental sekali nuansa Islam dan Persia, namun ketika masuk ke dalam, terlihat perabutan yang bernuansa Eropa, dari mulai lemari, kursi dan lampu-lampu Kristal. Masuk lagi ke dalam, terlihat singgasana bernuansa Melayu dengan warna kuning keemasan yang megah. Sayang sekali kondisi Istana Maimun saat ini kurang terawat, mungkin hal ini ada hubungannya dengan pengelolaan Istana yang dibiayai oleh keluarga dan penghasilan dari pengunjung secara sukarela, ditambah sumbangan dana dari pemerintah daerah setempat yang minim, mungkin loh ya :)

Setelah merasa cukup berjalan-jalan di Istana Maimun, saya dan Mas Imam langsung meluncur ke jalan Kriung, apalagi yang dicari di sini selain Bolu Meranti. Perjalanan selanjutnya ini cukup membuat kaget, ada-ada saja kelakuan para pengemudi angkot dan pengendara motor di Medan, kami sempat diklakson dari belakang karena tidak berani menyerobot traffic light, kata Mas Imam, sudah biasa seperti ini jika tidak ada Polisi.

Ini Medan Bung!” katanya sambil tersenyum.

Saya hanya bisa ikut tersenyum saja mendengar perkataan teman karib saya itu. Sampai di sana, cukup banyak bolu yang saya beli, 6 Gulung Bolu Meranti Isi Kejudengan Toping Keju juga, harganya? Gratis! Makasih banyak ya Mas Imam karena sudah traktir saya bolu Meranti, tahu bakal dibayarin, saya ambil 10 saja sekalian, hihihi. Antrian yang panjang itu tiba-tiba menjadi tidak terasa berat, dan senyum pun mengembang ketika saya keluar dari toko. Sekali lagi, terima kasih Mas Imam :D

Tak jauh dari sana, kami melanjutkan jalan-jalan ke area Kesawan, jalan Ahmad Yani. Restaurant TipTop merupakan tujuan kami selanjutnya. Tip-Top merupakan restaurant tua di kota Medan yang menjadi saksi bisu betapa cepat kota ini berkembang, terkenal karena kue-kue istimewanya seperti kue tart, specolaas, saucijsebrood, moorkop, horen dan lain-lain. Restaurant ini juga menyediakan berbagai menu makanandari Indonesia, China dan Eropa seperti steak ayam, steak lidah, salad, omelet, bitter ballen,  pancake, nasi goreng, cap-cay, fou yong hai, gado-gado, kari kambing, roti bakar dan lain-lain. Dan tidakketinggalan, es krim buatan sendiri yang memilikicita rasa tersendiri menjadi hidangan penutup yang istimewa sesuai dengan iklim kota Medan yang cukup panas. Kali ini, tentu saja giliran saya traktir Mas Imam, malu saya kalo sampai keduluan bayar lagi.

Dari Kesawan kami berjalan terus dan akhirnya sampai di Merdeka Walk. Area ini terletak di pusat kota, berada pada area lapangan merdeka, atau Jalan Balai Kota. Di area ini banyak sekali bangunan tenda-tenda dan cafe bergaya timur tengah. Setelah mencari tempat yang lumayan enak, kami berdua melanjutkan obrolan ringan ala kawan lama, membicarakan semua haldari A sampai Z. Segelas sirup marquisa dingin menemani saya ngobrol sama Mas Imam, semua terasa menyenangkan sampai akhirnya tiba pertanyaan itu dari bibir salah satu teman karib saya itu.

“Mau sampai kapan kau sendiri?”,tanya Mas Imam dengan cueknya.

“ … “, saya hanya terdiam.

“Kenapa kau diam saja, kudengar kau sudah ada calon”, lanjutnya.

Rasanya pembicaraan ini akan menjadi awal untuk malam yang sangat panjang. Ada baiknya saya memesan secangkir kopi hitam.

Sehari jadi Arek Suroboyo

cerita November 24th, 2011

Hampir 2 bulan terakhir ini saya tidak menulis disini, tidak sempat berbagi cerita atau sekedar menyapa. Cukup banyak hal-hal yang dipikirkan, mostly lebih pada masalah pribadi, contoh paling kecil namun berefek cukup besar adalah cinta, masih lemas rasanya hati ini jika mengingat pulau Bali. Belum lagi beberapa minggu kebelakang kesehatan saya agak menurun, mungkin  efek karena hati yang belum terisi dan kunjungan ke gym yang kemarin sempat terhenti . Demikianlah curahan hati seorang pilot di awal paragraf tulisan ini :| .

Cukup Gil mellownya, cukup..

Weekend kemarin saya akhirnya memutuskan jalan-jalan ke Bandung,  bertemu beberapa teman lama, menghabiskan waktu dengan tawa dan canda. Rasanya masih kangen sama teman-teman lama saya itu, masih terbayang teriakan-teriakan di salah satu café di Bandung ketika kami semua nonton bareng pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Vietnam di ajang semifinal Sea Games ke XXVI ini, dan mengantarkan Indonesia ke final nanti melawan Malaysia. Yay! Go.. Go.. atlit Indonesia, tetap semangat!

Hari Minggu siang saya harus kembali ke Jakarta, bersiap-siap untuk melanjutkan tugas saya sebagai seorang Pilot maskapai penerbangan komersial. Tujuan saya adalah Surabaya, cuaca agak kurang bersahabat  saat itu, pikiran saya menerawang ke belakang, jauh ke belakang. Waktu itu, saya baru lulus pendidikan di akademi pilot dan sedikit waswas mendapatkan penugasan penerbangan pertama saya. Saya tidak yakin saya bisa menerbangkan sebuah pesawat dengan sekian banyak  penumpang di dalamnya saat saya menjadi kapten nantinya.Saat itu seorang pilot senior, seorang guru sekaligus teman baik saya berkata, saya bisa melakukan itu selama saya mau terus belajar dan berpikir positif.

Ya, berpikir positif adalah cara berpikir yang paling benar :D

Berangkat jam 10:35 dan akhirnya Alhamdulillah mendarat dengan selamat pada pukul 11:40. Cuaca yang luar biasa panas tidak menghalangi saya untuk sejenak mengitari kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Setelah beristirahat sejenak, ganti baju dan bersiap-siap, saya ambil ransel saya dan memulai perjalanan ala Dora di Surabaya. Untuk sehari itu, saya jadi arek Suroboyo.

Pilihan saya yang pertama jatuh pada House of Sampoerna.

Selain bisa tahu banyak hal tentang asal-usul perusahaan rokok tersohor itu, kita bisa sekaligus  melihat cara kerja pembuatan rokok. Tak hanya museum saja, di sana juga ada galeri yang menunjukkan proses pembuatan tenun ikat. Museum Sampoerna membawa Sanggar Budaya Biliran Sina yang berasal dari Watubai, Maumere, dan Flores NTT. Disini saya bisa melihat proses pembuatan tenun ikat sejak pembentukan benang sampai penenunan kain kain yang berwarna cantik itu. Luar biasa, sungguh banyak sekali budaya negeri yang kita cintai ini.

111

Setelah puas berkeliling, perut saya mulai berbunyi, nampaknya harus mulai diisi. Pilihan saya akhirnya jatuh pada menu Sate Klopo. Untuk yang belum tahu, Sate Klopo ini bukan terbuat dari kelapa, melainkan potongan daging sapi/ayam yang dibakar dan diberi baluran kelapa, Benar-benar wuenak tenan, Rek! :)

Perut sudah damai terisi penuh. Tujuan selanjutnya adalah Monumen  Kapal Selam. Ya, dari namanya saja sudah mencerminkan apa yang akan saya lihat disana. Di dalamnya ada pemandu yang menerangkan segala perlengkapan dan ruangan yang ada di dalamnya. Hebat para tentara AL Indonesia ini, dalam ruangan sekecil itu bisa bertahan dan menunaikan tugas mulia. Mirip seperti  tugas seorang pilot ya, hehehe.

Setelah berkeliling-keliling disana cukup lama, waktunya kembali berkuliner ria. Entah kenapa sehabis sakit kemarin, nafsu makan saya menjadi semakin besar. Atas rekomendasi beberapa teman, akhirnya sore itu saya  memutuskan untuk mencoba Lontong Balap, kuliner yang belum sempat saya coba sebelumnya. Saya mampir makan di warung remang-remang, remang karena kurang pencahayaan :p

Makanan berkuah khas asli Surabaya ini diracik dari lontong, tauge, tahu goreng, lentho, kecap, bawang goreng dan sambal. Lontong ini balapan dengan isi makanan yang lainnya, cocok dengan lidah timur saya. Sebelum malam semakin larut, saya menyempatkan membeli beberapa toples sambel Bu Rudy, selain untuk oleh-oleh, sambel Bu Rudy ini adalah salah satu makanan favorit saya.  Saya bisa loh hanya makan nasi panas yang ditemani sambel sakti ini.

Sehari jadi arek Suroboyo.

Sungguh menyenangkan hari ini, berkeliling kota Surabaya hanya membawa ransel sendirian. Ah, sendirian. Mungkin lebih menyenangkan jika hari ini ada kamu yang menemani. Padahal hanya satu jam saja perjalanan menuju Bali. Ah sudahlah, lebih baik memejamkan mata saja. Gilang to earth, I’m off

My Better Half

terbang September 16th, 2011

Banyak orang bilang profesi sebagai pilot sangat menyenangkan. Terbang dari satu kota ke kota lain. Bukan hanya dalam negeri, tapi bisa ke pelbagai negara, itu jika ia seorang pilot maskapai internasional.

Aku tak pernah menganggap salah dugaan orang-orang itu.

Ya, aku sebagai pilot telah terbang ke segala penjuru. Melintasi awan, melepas pandang tanpa batas melalui kotak bening di Kokpitku. Semua membuatku berasa bebas dan lepas. Begitu indah.

Namun apakah orang tau bagaimana kehidupan cintaku? Apakah seindah pandangan akan alam dari atas sana?

Mungkin jadi agak sedikit melow drama, tapi tak apalah. Toh gak ada salahnya aku sedikit bercerita tentang kisah cintaku. Terbang dari satu kota ke kota yang lain seperti perwakilan dari garis asmaraku. Seperti kumbang yang terbang bebas dari satu bunga nan mekar ke bunga lainnya. Jangan, jangan anggap aku seorang lelaki pecundang yang tega mempermainkan hati wanita. Sungguh aku sangat menghormati kaum hawa ini. Bagiku wanita adalah kepingan surga yang patut dijaga. Ia akan menghadirkan surga utuh dengan melengkapimu akan kehadiran anak-anak lucu. Dimana kau bisa merangkainya dalam puzzle bernama keluarga hingga menjelma menjadi surga sejati.

Rumahku, Surgaku. Itulah cita-cita tertinggiku setelah berhasil menjadi seorang pilot seperti sekarang ini.

Lalu kenapa aku bisa berpindah-pindah hati?

Ini tak ayal karena kebanyakan wanita yang pernah kucintai tak kuat terlalu sering kutinggal sendiri. Hampir setiap hari aku harus terbang. Adapun kesempatan off dari terbang mungkin hanya 1 hari atau 2 dalam seminggu. Itupun bukan di hari libur. Jikalau berpapasan dengan weekend maka itu semacam bonus yang kurasa.

Meski berat dan sakit harus kualami berulang-ulang kali kandas dalam urusan asmara. Dan aku pun memutuskan tuk berhenti sejenak dalam urusan percintaan. Entah berapa lamanya kesendirian itu kujalani. Semua terasa hampa dan sepi. Aku selalu menghindar dari pesona wanita. Di hari off dinas terbang, aku memilih istirahat di rumah.

Namun kesendirianku tak berlangsung selamanya.

Di suatu hari yang cerah, aku sedang bersiap menuju Bandara Soetta. Hari itu tampak tak begitu ramai. Musim libur telah lama usai dan dapat kupastikan seat takkan penuh. Dengan santai aku geret travel bag-ku yang selalu pasrah mengiringi. Pandanganku lurus tertuju. Aku sudah terlalu biasa akan aktifitas ini. terkadang ada rasa jemu. Tak ada niat untuk sejenak mengedarkan pandangan. Tapi entah kenapa seperti ada magnet aku menolehkan muka ke arah belakang kanan. Berselang lima meter di belakang kulihat seorang pramugari tampak berjalan agak cepat dan terkesan terburu. Meski badannya tetap berjalan tegap tapi irama kakinya sudah lost of tempo. Musisi akan tau maksudku ini :)

Seketika aku terkesima. Paras cantiknya seakan mengalihkan pandanganku, dan terpujilah pencipta lagu itu hingga aku bisa mewakili perasaanku :p

Langkahnya semakin cepat seakan dan jarak kami semakin rapat. Dan senyumnya langsung mengembang ketika mata kami berpapasan. \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Capt..\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\” sapanya renyah diiringi anggukan lembut. Oh Tuhan! Jika Kau mengilhami manusia tuk menciptakan harpa nan bernada indah itu, pastilah Kau sengaja meletakkan nada itu pada pita suara perempuan ini. Aku tak segera menjawab, hanya mataku mengikuti gerak tubuhnya yang berjalan mendekat. Kini ia telah berjalan di sampingku, persis! Dan aku? hanya DIAM!

Ingat, aku masih berjalan sembari menatapnya. Dan dari seragam yang ia kenakan dapat kupastikan bahwa ia satu maskapai denganku.

\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Gubraak!!!\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\” Suara troli ditabrak. Yup, dengan sembrononya aku sukses menubruk seorang wanita paruh baya. \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Kalau jalan liat-liat donk!\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\” wanita itu gusar kesakitan.

\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Maaf bu, maaf\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\” setengah panik bercampur malu dan sedikit nyeri di tulang kering segera kubereskan bawaanya yang berserakan. Dan lewat ekor mata dapat kulihat pramugari tadi menahan tawanya dengan mendekap mulutnya dengan tangan. Dan mukanya bersemu merah dan tubuh yang terlonjak-lonjak menahan gejolak tawanya sendiri. Ah, pastilah sangat renyah suara tawa itu. Dan semu di pipinya…Oh aku gila! Dalam keadaan seperti ini aku masih bisa menemukan magic dari dirinya.

Kembali ke scene di mana aku yang tengah mengumpulkan barang-barang si ibu korban tabrakku. Aku bersigegas. \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Duh captain, kalo udah jalan ama pramugari aja lupa deh ama sekitar\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\” goda salah seorang pengunjung yang sontak membuat orang-orang tergelak.

\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Pramugarinya cantik gitu, ya iyalah\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\” seorang ikut menimpali. Suasana makin ramai akan gelak tawa. \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Kendalikan burung besi mah gampang bung, tapi hati yang dibawa terbang lain cerita\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”

Kuumpat diriku sendiri dalam hati. Usai berberes segera kusalami ibu tadi.

\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Ibu gak apa-apa? Ada yang sakit?\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\” tanyaku.

Si ibu itu malah tersenyum cekikikan. Ah sudahlah, aku harus segera meninggalkan tempat aib ini. \\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Kalau begitu saya pamit ya, bu\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”. Ia hanya tersenyum dan melirik pada pramugari tadi. Yang dilirik malah menunduk tersenyum.

\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\”Jiieeee…captain\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\\” satu lagi suara. Sial! Pengunjung makin tergelak.

Tanpa membuang waktu segera berlalalu dengan meraih tangan si pramugari tuk mengajak pergi. Dan ia tak menolak. Kutinggalkan semua keriuhan ini.

Setelah “aman” aku baru sadar bahwa aku masih menggenggam tangannya. “Maaf” kataku. Ia pun tersenyum. Dengan berat hati kulepaskan genggamanku. Di wajah cantik itu sangat sempurna dengan senyum terulas. Meski aku tau senyum itu sisa kebodohanku tadi.

“Denpasar?” tanyaku lagi. Ia mengangguk pelan. Dan perlu dicatat. Selama komunikasi ini matanya selalu menatapku. Eye contact! Ada lega saat ia membenarkan pertanyaaku.

“Kalau capt kemana?”

Ingin kujawab ke hatimu… tapi urung karna masih trauma kejadian barusan. “Sama ama kamu” jawabku akhirnya.

Kami pun berkenalan. Dan dapat kurasakan penerbangan ini amat sangat berbeda. Ada pijar yang kurasa setelah sekian lama pada. Dan kuyakin, ini adalah kota tujuanku terakhir :)

Nikmatnya Berbuka di Cockpit

cerita August 27th, 2011

Siang tadi saya baru touchdown di Medan. Sebuah kota di Sumatera Utara yang memiliki banyak kisah menarik dan tentu saja makanan yang menarik juga. Setibanya di Medan, tiba-tiba pikiran saya terbawa ke sebuah cerita di bulan Ramadhan tahun 2009 lalu. Sebuah cerita tentang nikmatnya berbuka puasa sambil menikmati indahnya matahari tenggelam.

Jadi, sore itu saya mendapat tugas untuk membawa Boeing ke Polonia, Medan dengan mengambil start di Cengkareng. Ketika saya bilang sore, maka jam penerbangan adalah pukul 16.30 WIBB. Menurut jadwal, perjalanan dari Cengkareng hingga Polonia kira-kira membutuhkan waktu dua jam lima belas menit. Yang kalau dikonversi menjadi perjalanan darat dari Jakarta pasti baru sampai di Tol Pasteur. :)

Nah, karena saat itu adalah bulan Ramadhan dan –tentu saja– saya sedang berpuasa maka saya harus menyiapkan diri untuk dua hal. Satu, saya harus siap untuk berpuasa sedikit lebih lama dari biasanya. Kenapa? Karena kali ini saya melakukan perjalanan ke barat (Jakarta ke Medan) sehingga saya harus mengikuti waktu buka untuk wilayah Medan. Tidak lama memang, karena hanya terpaut 30 menit saja.

Namun, begitulah uniknya berpuasa bagi “pengelana” seperti saya ini. Di manapun saya memulai berpuasa, saya akan mengakhirinya dengan mengacu pada waktu berbuka di tempat yang saya tuju. Sekalipun saya memulai berpuasa di Jakarta misalnya, dan mendapat jatah terbang ke Dubai maka saya harus ikut berbuka menggunakan waktu Dubai.

Yang kedua, saya harus menyiapkan diri untuk berbuka di pesawat. Kalau soal ini sih remeh karena saya cukup membeli roti favorit saja sebelum terbang. Roti cokelat-keju yang saya suka banget dan saya cuma nemu di Jakarta. Jadi sengaja saya bela-belain beli roti itu karena rasanya berbuka di jalan nggak akan lengkap tanpa itu roti.

Saat itu langit memang cerah dengan ada sedikit mendung tipis menggelantung di langit Sumatera. Ketika waktu berbuka –akhirnya– tiba untuk wilayah Medan dan sekitarnya, yang kami tahu dari jadwal dan alarm, saya menikmati segelas teh hangat sembari menikmati indahnya panorama matahari terbenam.

Saya memang sering melihat matahari terbenam dari kokpit. Namun entah mengapa, sore itu berbuka dengan ditemani matahari terbenam terasa sangat menenteramkan. Sebuah pengalaman yang rasanya menggugah dan mendamaikan jiwa.

Sunset

Diam terpaku dengan gelas di tangan saya berucap pelan ke Andrew, pilot yang berada di sebelah saya, “Dude, this is AMAZING!” Dari ujung mata saya melihat Andrew mengangguk pelan sambil berujar, it is. Sebuah drama yang biasanya cuma terjadi dalam sinetron, eh? :D

Dan tahu nggak? Saking terpesonanya dengan panorama sore itu saya sampai lupa pada roti favorit yang tadi saya beli. Apa boleh buat, senja itu terlalu indah untuk dilewatkan.

Setelah puas menikmati senja, kami pun landing dengan mulus –dan saya masih takjub. Sebuah pengalaman berbuka yang sungguh luar biasa.

Eh, ngomong-ngomong sudah masuk minggu ketiga puasa rupanya. Sudah pada merencanakan mudik ya? Saya belum sih. Mungkin nanti. :D

The Brightest Star

cerita July 25th, 2011

Entah karena saya yang baru memperhatikan, atau memang media yang baru rajin memberitakan, tapi akhir-akhir ini saya menemukan banyak berita miring di dunia pendidikan. Ada banyak sekali kasus yang pada akhirnya mencoreng wajah pendidikan di negeri ini. Tragis. Dan yang sungguh saya sayangkan adalah kasus banyak terjadi di level pendidikan sekolah dasar. Sebuah tempat pembentukan pondasi bagi anak-anak menyongsong masa depan. Titik penting dari fase kehidupan seorang manusia.

Belum lagi masalah biaya pendidikan yang semakin mahal dan pungutan dengan berbagai alasan, yang kadang masuk akal dan kadang tidak itu. Bantuan pemerintah BOS yang katanya membantu itu? Rasanya sama sekali jauh dari harapan para orang tua tentang jawaban akan mahalnya biaya pendidikan. Malah, beberapa orang tua ada yang mengatakan mereka merasa seperti sapi perah. Terlepas dari benar-tidak-nya pernyataan itu, kalimat itu sungguh menohok dan tidak seharusnya muncul dalam kamus dunia pendidikan.

Menjadi bintang itu semanis kue ini :)

Ya, memang akan selalu ada permasalahan di setiap bidang dalam kehidupan kita. Pengangguran, gelandangan, pendidikan bahkan sampai soal impor film yang maju-mundur seperti undur-undur. Eh, undur-undur nggak maju ya? :D

Membaca soal pendidikan  ini membawa ingatan saya kembali ke jaman dahulu kala (nggak segitunya juga sih). Sebuah momen ketika perjuangan saya menjadi pilot melalui sekolah yang berat dan panjang dimulai dan berproses. Akhir ceritanya bisa ditebak kok.

Read the rest of this entry »

My First Flight!

cerita, terbang June 28th, 2011

Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Enam tahun sudah saya berada di maskapai ini dan saya telah belajar banyak baik dari pengalaman sendiri maupun dari kapten-kapten lain. Kadang saya mendapat pengalaman dari kapten yang lebih muda dan begitu juga sebaliknya. Kami terus belajar dan saling bertukar ilmu satu sama lain.

Flashback sedikit ke belakang, ini adalah maskapai yang saya tempati sejak berprofesi menjadi kapten pesawat komersial. Di sinilah saya pertama kali menerbangkan pesawat komersial.

Hingga saat ini, saya merasa ini adalah maskapai yang tepat dan membuat saya nyaman. Beberapa teman sempat berkata ke saya, kok nggak pindah ke maskapai lain? Saya hanya tersenyum sambil berkata, nanti jika waktunya tiba. Toh, bagi saya di manapun berada selama saya menjalani segala sesuatunya dengan ikhlas semuanya akan baik dan bermanfaat. Ada juga yang bilang saya ini tipikal setia. Well, entahlah.

Bukan pesawat ini yang saya terbangkan, tapi saya suka pesawat ini. :)

Salah satu kenangan yang masih melekat di benak dengan baik adalah pengalaman pertama kali saya menerbangkan pesawat –dalam hal ini pesawat komersial. Sebelum akhirnya menjadi kapten seperti sekarang, tentu saja saya telah memiliki ribuan jam terbang sebagai co-pilot ke berbagai kota. Dan penerbangan pertama sebagai kapten ini adalah sebuah pengalaman yang luar biasa karena merupakan pintu yang membawa saya menjadi seperti sekarang. Pengalaman yang rasanya tak terlupakan walau sudah tidak menjadi kapten lagi, kelak.

Saat itu langit Jakarta cerah, begitu pula Cengkareng. Dua jam sebelum keberangkatan saya sudah tiba di Soekarno-Hatta demi mendapatkan instruksi dari kapten senior, AD. Kami berjanji untuk bertemu 1,5 jam sebelum keberangkatan sebenarnya. Namun, saya sengaja datang lebih awal agar tidak terlambat dan terburu-buru. Saya pun mendapatkan arahan dan petunjuk dengan lengkap mengenai kokpit dengan sangat detail. Waktu itu dalam hati saya berkata, ‘Ya Tuhan, ini lebih rumit dari yang saya bayangkan!’ Hehe…

Waktu pun beranjak, dan tiba saatnya saya membawa pesawat. Berbekal pendidikan selama di sekolah, jam terbang yang cukup banyak, serta arahan dari kapten AD saya pun masuk ke kokpit. Momen ini adalah momen yang mendebarkan sekali. Rasanya seperti ketika hendak mengajak kencan seorang perempuan yang baru saya kenal beberapa hari lalu. Deg-degan dan campur aduk.

Read the rest of this entry »